Program Bimbingan dan Konseling Berbasis Kesehatan Mental
(Oleh: Galih Mahardika | 1301420063 | Kesehatan Mental | Rombel 2)
BK Berbasis Kesehatan Mental?
Seiring dengan perjalanan waktu, fokus kesehatan mental mulai berubah dari pencegahan menjadi perawatan (1980) terhadap individu dengan berbagai masalah mental. Dalam sejarahnya, konseling kesehatan mental didefinisikan dalam berbagai cara, mulai sebagai bentuk konseling khusus yang dilakukan dalam lingkungan berbasis komunitas nonpendidikan atau lingkungan kesehatan mental. Berbagai pandangan tentang konseling kesehatan mental yang difokuskan pada perkembangan (Ivey, 1989); hubungan (Ginter, 1989); perawatan, advokasi, atau penanganan pribadi dan lingkungan (Hershenton, Power, Seligman, 1989). The council for Accreditation of Counseling and Realited Educational Programs (CACREB, 2001) memberikan gambaran dari bidang khusus ini, dengan persyaratan aktifitas, pengetahuan dasar, dan keahlian. Konseling kesehatan mental adalah profesi yang khusus, karena kurikulumnya mencakup psikodiagnosis, psikopatologi, dan rencana perawatan. Afiliasi kolaboratifnya dengan ACA (American Counseling Association). Pengertian konseling kesehatan mental tidak bisa dilepaskan daripada pengertian kesehatan mental itu sendiri. Salah satu definisi kesehatan mental, Surgeon General of United States (ahli bedah umum Amerika Serikat) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kinerja fungsi mental yang sukses, yang menghasilkan aktivitas produktif, hubungan dengan orang lain yang memuaskan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan menangani kesulitan; dari sejak masa kanak-kanak sampai kehidupan berikutnya.
Peranan bimbingan dan konseling berbasis kesehatan mental
Pentingnya bimbingan konseling berbasis kesehatan mental di sekolah. Data mengenai bunuh diri remaja di Indonesia cukup minim, namun sebuah studi dari Universitas Udayana menemukan bahwa 4,75% dari sampel remaja usia 13-18 tahun di seluruh Indonesia pernah berpikiran bunuh diri setidaknya sekali dalam setahun terakhir. Dari angka tersebut, lebih dari setengahnya kemudian lanjut melakukan percobaan bunuh diri sungguhan. Namun, statistik di atas sekadar menggambarkan niatan bunuh diri remaja. Angka kematian yang sesungguhnya, bisa jadi menggambarkan kondisi yang lebih pahit dari Survei Kehidupan Berkeluarga Indonesia (IFLS-5) menunjukkan bahwa prevalensi gejala depresi tertinggi di Indonesia ada pada remaja perempuan, sebesar 32%. Depresi pada remaja laki-laki tidak jauh di bawahnya, sebesar 26,6%. Kurang adanya bimbingan konseling berbasis kesehatan mental.
Kasus pelajar mengambil tindakan bunuh diri karena kurangnya pemahaman tentang diri kita, bisa jadi stress berat karena tidak tau mau kemana lagi menuangkan isi hatinya, depresi karena tuntutan akademik, tekanan mental dari orang tua, pembulian di sekolah. Hal-hal itu yang menyebabkan para pelajaran mencari jalan pintas walaupun itu tidak dibenarkan.
Pencegahan Primer dan Peningkatan Kesehatan Mental
Dalam sejarah konseling ksesehatan mental, pencegahan dan peningkatan layanan kesehatan mental menjadi penekanan filosofis yang utama. “Banyak konselor kesehatan mental yang secara aktif terlibat dalam jenis program pencegahan primer melalui sekolah, perguruan tinggi, gereja, komunitas, pusat kesehatan, dan lembaga publik serta pribadi.”
Model bimbingan konseling berbasis kesehatan mental berfokus dalam 3 dimensi yaitu :
Pertama, konselor harus bekerja untuk meningkatkan kekuatan individu dan mengurangi keterbatasan individu.
Kedua, mereka harus meningkatkan dukungan sosial (contohnya, melalui orangtua dan teman sebaya) dan mengurangi tekanan sosial.
Ketiga, variable lingkungan, seperti kemiskinan, bencana alam, dan program komunitas bagi remaja, harus diatasi.
Sumber:

Komentar
Posting Komentar